PERINGATAN!

Cerita yang bersangkutan dengan karakter di sini dan dituliskan di @LUClSCURA mengandung tema-tema dewasa dan materi yang mungkin memicu ketidaknyamanan bagi sebagian pembaca. Maka kebijaksanaan pembaca sangat disarankan.TW / CW: DEAD DOVE : DO NOT EAT, NOT SAFE FROM WORK, Horor Psikologis, Obsesi Ekstrim, Kejahatan Terhadap Manusia, Kehilangan dan Kematian, Romantisasi Kematian, dan mungkin bertambah nantinya

SANGKALAN

Seluruh karakter, nama, dan peristiwa dalam cerita ini adalah fiktif. Penggambaran elemen-elemen di dalamnya murni untuk tujuan penceritaan dan bermain peran, serta tidak dimaksudkan untuk menormalisasi atau mendukung tindakan kekerasan di dunia nyata.

PEDOMAN.

“...” / ... ㅤ : In Character.
#. ... ㅤ ㅤ : Out of Character.
ᎷᎯᏒᏕ | ... : Writer's note.

MEDIA

Seluruh media yang digunakan hanya dimanfaatkan untuk keperluan menulis yang berasal dari platform umum, maka seluruh hak ciptanya dimiliki oleh pembuat media yang dipakai.

TERLARANG

Dilarang melakukan god-modding dan metagaming terhadap karakter Yezekael Lonan tanpa seizin penulisnya.Namun apabila ada ajakan menulis maupun berdiskusi untuk relasi, sangat terbuka untuk dilakukan dan bisa langsung hampiri lewat pesan langsung X.

Pemeran utama

NAMA
Yezekael Lonan
NAMA LAHIR
Danadyaksa Pranadipa
TEMPAT, TANGGAL LAHIR
Paris, 5 April 1991
OKUPASI
Restorator Karya Seni
KEWARGANEGARAAN
Indonesia, Prancis
DOMISILI
Paris, Prancis
ORIENTASI SEKSUAL
Biseksual
GOLONGAN DARAH
A (-)
KEYAKINAN
Agnostik

Face claim: Zhang Linghe

PENAMPILAN:
Tinggi & Berat Badan:
191 cm / 65 kg
Warna Rambut:
Hitam
Warna Mata:
Cokelat gelap

Mahakarya Sebuah Dosa

Yezekael Lonan lahir dari persimpangan dua dunia—darah Eropa yang kaku dan Asia yang menyimpan kabut misteri. Ia adalah sebuah paradoks yang dibentuk oleh penolakan. Tahun 1991 bukan sekadar angka baginya, melainkan sebuah segel kutukan, tanda lahir dari sebuah “kesalahan” yang tak diinginkan. Masa kecilnya di Indonesia dihabiskan di bawah bayang-bayang seorang ibu yang memandangnya dengan kombinasi rasa bersalah dan kebencian yang statis serta ayah tiri yang memandangnya bagai tak kasa mata. Di mana nyanyian tentang betapa salahnya Yezekael ada di dunia telah jadi senandung pengantar tidurnya setiap malam.Meski begitu, di rumah yang penuh dengan aroma melati dan keheningan yang menyesakkan itu, Yezekael tetap tumbuh dan menjadi pengamat yang presisi; ia belajar membedah perubahan suasana hati melalui denting cangkir teh atau kerasnya langkah kaki. Dari sanalah ia menyimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang berantakan, cacat, dan rapuh—dan satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan menjadi lebih dingin daripada tatapan ibunya dan lebih tegas daripada titah ayahnya sendiri melalui kontrol mutlak.Menginjak usia 20an, ia terdorong untuk menemukan potongan dirinya yang hilang, Yezekael remaja melakukan ekspatriasi menuju Prancis; tanah leluhur sang ayah yang tak pernah ia temukan bayangannya. Namun rencananya tak semudah bayangan, ia terbawa arus dengan dipaksa fokus bertahan hidup. Lewat sebuah bengkel tua yang lembap di kota pinggiran Prancis, ia mulai mempelajari cara merestorasi barang-barang antik dengan presisi yang hampir tidak manusiawi.Keahliannya yang seolah “menghidupkan kembali” benda mati ini pun kemudian menarik perhatian para kolektor, namanya dibisikan dari satu telinga ke telinga lain, dan bengkel tua yang semula diremehkan itu jadi tempat sibuk yang didatangi orang-orang borjuis bersama barang antik dan karya seni mereka.Nama Lonan bergema bagai bisikan mistis di galeri-galeri elit Paris, di pusat seni dunia inilah, ia membangun kerajaan restorasi seninya—sebuah bisnis mewah dengan wajah aristokrat yang menawan, yang menjadi tirai beludru sempurna bagi kegelapan yang ia pelihara dengan saksama.Ya, di balik setelan jas formal dan senyum misteriusnya, pikiran Yezekael adalah sebuah labirin yang terus menjerit. Kegelapan yang ia tutupi rapih. Tepar di tahun 2012, matanya yang terbiasa menilai estetika kanvas mulai memandang manusia sebagai mahakarya yang malang karena harus tunduk pada hukum pembusukan waktu. Baginya, kematian bukanlah akhir, melainkan tindakan pemulihan terakhir bagi jiwa yang terlalu indah untuk dibiarkan bernapas di dunia yang kotor.Dengan menasbihkan dirinya sebagai “The Curator of Final Moments”, Yezekael dan kuasanya lewat The Sanctum—ruang rahasia yang steril di bawah tempat tinggal miliknya—mengkurasi jiwa-jiwa murni, berbakat dan terlau indah. Seperti gadis penari balet yang menjadi mahakarya pertamanya, dan membekukan mereka dalam pose abadi, mengubah mereka menjadi patung sunyi yang tidak akan pernah mengecewakan atau membusuk.Namun di balik kehebatannya sebagai predator yang perfeksionis, Yezekael adalah sosok yang sangat rapuh dan terjebak dalam disonansi orkestra internal. Ia dihantui oleh kebisingan mental yang mampu melumpuhkan kewarasannya seketika jika ia kehilangan kendali.Kelemahan terbesarnya adalah arloji saku yang rusak namun terus ia kantongi serta segala hal yang mengingatkannya pada sosok ibu yang ia tinggalkan; aroma melati atau suara langkah kaki tertentu yang bisa menghancurkan fasad klinisnya dan mengubah sang predator menjadi anak kecil yang penuh dendam dalam sekejap.Setiap mahakarya di ruang bawah tanahnya adalah upaya bawah sadar untuk membuktikan kepada bayangan ayahnya bahwa kesalahan dari tahun 1991 ini telah menjadi satu-satunya hal paling sempurna di muka bumi.Dirinya, Yezekael Lonan, bukanlah sekadar pembunuh berdarah dingin, melainkan seniman yang kesepian, yang percaya bahwa ia sedang memberikan keabadian kepada mereka yang ia “selamatkan”, sementara ia sendiri tetap menjadi kesalahan paling indah yang pernah ada di dunia yang nyata.